Gairah yang Terpendam - Bab 04
Mona turun buat ambil daleman dan handuk, trus mandi di kamar Leon.
“Lo masih enggak pake celana?” komen Mona karena Leon masih bertelanjang dada dengan handuk di pinggang dan ponsel di tangan.
Mona mikir masa bodoh dan mandi. Abis berendam pake air hangat, Mona bilas diri dan keluar. Dia nghela napas pas liat Leon tidur dengan ponsel di dadanya. Wanita itu ambil ponsel Leon dan taruh di nakas, trus selimutin Leon yang belum pake celana.
Abis matiin lampu, Mona tutup pintu kamar Leon dan tidur di kamarnya. Paginya, Mona bangun kesiangan dan Leon teriak-teriak nagih sarapannya.
“Kamu makan gaji buta? Sarapan gue mana?” ucap Leon sambil buka pintu kamar Mona yang lupa dikunci.
Mona bangun dengan males, liat tajam Leon yang berdiri di pintu. “Jangan masuk kamar gue sembarangan.”
Mona singkap selimutnya dan jepit rambutnya asal, trus lewatin Leon dan langsung ke dapur.
“Nggak bisa bikin sendiri apa?” tanya Mona.
“Kalo gue bikin sendiri, buat apa ada lo?” jawab Leon.
Mona goreng telur dan sosis, trus panggang roti. Enggak butuh waktu lama sampe sarapan tersaji, dan Mona taruh di depan Leon.
“Bikin kopi juga,” kata Leon.
Mona bikinin kopi buat Leon, trus taruh di hadapannya.
“Ada lagi?” tanya Leon.
“Enggak,” jawab Mona.
Leon mulai makan sarapannya, dan Mona cuma ambil selembar roti dengan telur. Tapi, tangannya ditahan sama Leon, yang maju mukanya dan cium bibir Mona.
“Hari ini gue mau keluar,” ucap Leon abis cium wanita itu.
Dengan geram, Mona pergi dari hadapan Leon dengan bawa roti.
“Terserah,” jawab Mona sambil tutup pintu kamarnya.
Leon balik ke rumah pas sore hari. Dia naruh kunci mobilnya, trus pergi ke dapur ambil air. Abis basahin tenggorokannya, Leon ke ruang tengah, tiduran sambil nonton TV.
“Mona! Beliin gue popcorn!” teriak Leon, tapi enggak ada jawaban.
“Lo enggak tuli kan?!” teriak Leon lagi.
Pintu kamar Mona kebuka, “Bisa enggak sih enggak teriak sehari aja?”
Mona ambil popcorn di nakas dapur, trus lempar ke pangkuan Leon.
“Muka lo kenapa?” tanya Leon sambil buka bungkus popcorn.
“Gara-gara lo,” jawab Mona sinis, trus balik ke kamarnya.
Mona kebangun pas denger suara gaduh dari arah dapur. Hari udah malem dan kepalanya masih pusing. Mona pergi ke dapur dan nemuin Leon lagi ngomel sambil megang jarinya yang ada goresan darah. Mata Mona terbuka lebar liat darah yang netes dari jari Leon.
“Mau apa?!” seru Mona.
Mona langsung liat kondisi tangan Leon, nyari tisu di dapur, dan obatin lukanya pake kotak P3K. Abis selesai, Mona tanya, “Kenapa enggak manggil gue?”
Mona liat apel yang tergeletak di atas meja, “Gue udah manggil lo, tapi lo enggak dateng.”
Mona nghela napas, kupas apel buat Leon, tapi tiba-tiba tangan Leon terulur nyentuh kening Mona.
“Badan lo hangat,” kata Leon.
Mona diem dan lanjutin ngupas apel, “Cuma pusing dikit.”
“Minum obat. Dulu lo suka marahin gue kalo gue enggak mau minum obat,” kata Leon.
“Gue udah minum,” jawab Mona.
Mona potong-potong apel dan taruh di piring. “Lo mau makan malem apa?”
Leon ambil potongan apel dan makan, “Pesen makanan aja.”
“Ya udah, lo yang pesen,” kata Mona abis selesai ngupas apel. Dia cuci tangan dan ambil air buat minum.
“Kalo lo sakit, gue akan potong gaji lo,” ucap Leon yang pergi ke ruang tengah dengan sepiring apel.
“Hmm,” gumam Mona, tau sifat Leon yang juga peduli sama dia dengan caranya sendiri.
Mona ambil setelan jas yang baru dibeli dan taruh di atas ranjang. Di kamar mandi, Leon masih mandi, dan Mona siapin keperluan pria itu buat dateng ke acara award. Seperti biasa, Leon keluar kamar mandi cuma pake handuk.
“Sini kepala lo,” kata Mona.
Leon nurunin kepalanya di hadapan Mona, dan wanita itu langsung keringin rambut Leon. “Lo yakin bakal menang hari ini?” tanya Mona, masih fokus keringin rambut Leon.
“Lo raguin kemampuan gue?” jawab Leon.
“Enggak. Artis gue yang satu ini emang nomor satu,” kata Mona.
Leon makin bungkukin badan pas Mona keringin rambut belakangnya, tanpa sadar bikin wajah Leon makin deket sama wajah Mona. Pria itu terus liatin wajah Mona, sedangkan sang wanita belum sadar kalo dipandangi.
“Udah selesai,” kata Mona, nyudahi ngelap rambut Leon. Matanya ketemu sama mata Leon yang liatin dia.
Wajah Leon maju dan cium bibir Mona, miringin kepala, dan lumat pelan. “Kalo gue menang, lo harus kasih gue hadiah,” ucapnya abis nyudahi ciuman singkat itu.
Jantung Mona berdetak kencang, ditambah senyuman manis di wajah tampan Leon. Mona enggak bisa ngontrol dirinya.
“Berhenti cium gue sembarangan,” geram Mona. Wanita itu nutupin muka Leon pake handuk dan pergi dari kamar Leon.
Acara awards berlangsung meriah. Mona berdiri di belakang stage, nonton tayangan live dari TV bareng beberapa orang lainnya. Pas penobatan aktor pendatang baru terbaik, nama-nama nominasi terpampang, dan Mona nge-lock tangannya pas wajah Leon muncul.
“Dan, aktor pendatang baru terbaik jatuh pada… Leon Adrian-Grafton! Leon!”
Mona bahagia pas nama Leon disebut sebagai aktor pendatang baru terbaik. Wajah Leon jadi sorotan, dan dia maju ke atas panggung buat terima piala dan bunga.